Keriuhan tema Covid 19 mulai surut di Pekanbaru, namun kita belum lepas dari dampak sistemik yang ditimbulkannya. Bukan hanya persoalan proses pendidikan yang ‘lumpuh’ itu, namun kita dihadapkan pada setumpuk masalah sosial-ekonomi yang membuat diagram pertumbuhan daerah membeku, landai dan bahkan menurun.
Malangnya, ini tidak hanya soal pertumbuhan. Angka-angka itu punya dimensi yang begitu luas dan saling kait berkait. Penanganan yang tidak tepat memperbesar ruang untuk kegagalan tingkat lanjut. Indikator mana yang akan diselesaikan? Ekonomi? Kesehatan? Politik dan kepemimpinan? Pendidikan?
Jika merujuk kepada kertas kerja, opportunity cost akan muncul di bab terbesar strategi penanganan.Hanya saja tak satu pun dari opsi strategi terkontrol yang benar-benar memperlihatkan end point yang jelas sehingga bisa dijadikan patokan biaya peluang. Misalnya saja, untuk menyelamatkan ekonomi masyarakat strategi realisasi anggaran bisa menjadi opsi jangka pendek. Tapi bagaimana setelahnya? Apa hasilnya? Sampai kapan hasil itu konsisten bertahan?
Setiap data yang ada hanya sebatas asumsi. Jika ini maka itu, jika itu maka … Dan ‘ini-itu’ pun sangat bervariasi. End point menjadi keniscayaan.
Wait and see… jelas tidak dapat dilakukan secara ‘berterus terang’.
Maka action harus menjadi patokan. Benar adanya jika hampir semua data berujung pada ketidakpastian, maka kita perlu berhitung dengan cara out of the box. Mari bermain dengan ketidakpastian tersebut. Dalam hal ini, semua pihak harus berkolaborasi dan mengambil perannya masing-masing, dikomandoi pemerintah.
Jangan berhenti pada COVID-19 sebagai main cause, lanjutkan pandangan pada root cause. Pandemi menguji kekuatan sistem, maka sistem kini menjadi objeknya bukan lagi si covid itu.
Pembahasan ini pun akan menjadi sangat luas. Sistem saling terkoneksi, saling berdampak satu terhadap lainnya. Tapi itu tidak masalah asalkan kita mampu mengurainya, satu per satu. Perspektif ekonomi akan memunculkan sistem penyangga ekonomi, lalu bercabang ke aspek-aspek lain. Perspektif sosial-politik pun akan demikian. Kita sedang memetakan, maka akurasi menjadi tolak ukur.
Dan di akhir pemetaan itu, (kalau boleh mendahului) kita menemukan banyak peran yang kosong. Ibarat kesebelasan sepakbola kita lupa bahwa kini ada pos-pos yang tidak dijaga. Di sisi lain pos-pos tertentu memuat terlalu banyak ‘player’. Kita ternyata telah keluar sedemikian jauh dari strategi dasar pembangunan dan tatakelola negara. Bahkan, bisa saja kita sudah lupa peran masing-masing.
Jangan anggap 11 orang dalam kesebelasan itu adalah pemerintah semata, sungguh jangan. Setiap orang dan organisasi punya tempat di sana pun untuk di kesebelasan juga ada pemain cadangan, pelatih, manager, supporter, penyandang dana, komentator dan sebagainya. Jadi tidak hanya 11 peran, namun lebih dari itu. Jika ada peran yang beragam, kenapa semua orang memilih untuk menjadi komentator?
Kembali kepada opportunity cost jika semua orang sudah ‘dikembalikan’ kepada pos mereka masing-masing. Saatnya mendata opsi yang tersedia, dan itu haruslah untuk semua peran yang ada. Setiap opsi memiliki opportunity masing-masing, juga dengan atribut cost-nya. Jika memang semua orang memahami role-nya, mengerti perannya dalam memenangkan permainan melawan pandemi ini harusnya memilih opsi-opsi strategi itu tak lagi menjadi hal yang sulit.
Di tengah ketidakpastian, sulit memang untuk memastikan opsi mana yang dipastikan sukses. Tapi itu antara penting dan tak penting. Kolaborasi menjamin efektivitas dan efisiensi, maka ruang untuk bereksplorasi dan bereksperimen di tengah peliknya kondisi menjadi lebih terbuka.
Dan saya lengkapi tulisan ini dengan cuplikan dongeng kesukaan saya. Semoga Anda bisa membawanya ke dunia nyata.
—One round trip each, no mistakes, no do overs. Most of us going somewhere we know, that doesn’t mean we should know what to expect. Be careful. Lookout for each other. This is the fight of our lives and we’re gonna win. Whatever it takes. Good luck.—
Artikel : Opini
Ditulis oleh : DP Dinata ( Praktisi pendamping UMKM dan pengamat ekonomi mikro )
